Judul itu merupakan lagu lama yang tidak pernah usang. Sering didengungkan pebisnis jual beli. Mau salon, toko sampai tukang pijat. Istilahnya, konsumen adalah raja. Raja adalah konsumen. Adalah raja, konsumen. Bolak-baliknya sama.
Nyatanya, masih saja sulit dilakoni. Apalagi soal perbengkelan. Sering kita alami, bengkel-bengkel nyebelin dan memperlakukan pasien seenak udele. Dia pikir, hanya dia yang paling pintar. "Pelayanan konsumen seperti raja, adalah salah satu nilai jual yang tinggi, agar konsumen setia," tukas John A. Munir. Dia managing director Ducati Motor di Jl. RS. Fatmawati, No. 28 AA, Jakarta Selatan.
John sembari mencontohkan soal komunikasi bengkeinya. Kudu menerapkan azas terbuka dan terus terang. "Terutama, soal kerusakan sekaligus garansi setelah kerusakan," timpal kepala bengkel Ducati, M.S Djoko. "Malah, Ducati yang rusak, wajib didatangi ke lokasi dalam 24 jam," janjinya.
Ini layak ditiru bengkel lain, khususnya bengkel jalanan. Pastilah nggak mungkin serapi Ducati yang punya dana kenceng. Tapi, soal komunikasi terbuka ini layak dijadikan contoh.
Misalnya soal kerusakan motor. Bagusnya, bengkel bengkel kaki lima membuat daftar komponen yang akan diganti, meminta persetujuan konsumen lebih dahulu. Ini sebenarnya sudah diterapkan bengkel resmi di mana pun. Tapi, nggak ada salahnya kan ditiru.
Misal, menawarkan pada konsumen. Mau belanja sendiri komponen pengganti atau disediakan bengkel. Ini menyangkut kepercayaan, Bung. Tuh bengkel nggak punya niat ngetok duit pasien. "Gue lebih percaya model begitu. Kalau ada waktu luang, bisa belanja sendiri," alasan Muhammad Amil Hussein, penyemplak Honda lawas C70.
Jika terpaksa menginap, bengkel kudu punya jadwal pasti. "Kan gedek juga, bolak balik bengkel terus. Eh, motornya nggak beres-beres alias tarsok(ntar-besok)," kesal Zaki Maskur, penyemplak Tornado, Jakarta, pada bengkel macam itu.
Itu kelemahan bengkel kebanyakan. Mereka nggak ketat menjadwal waktu perbaikan sampai selesai. Padahal, jelas menguntungkan pebengkel yang bersangkutan. Selain konsumen jadi respek, lahan tempat motor ngejogrok, nggak mubazir. Ya, kan.
RAJA DIRAJA
Cara bikin konsumen jadi rajanya segala raja alias king of king. Jelas, harus jadi perhatian ekstra bengkel kaki lima. Paling abadi, menerapkan gaya teman melayani pelanggan. Seperti raut muka antusias dan berseri. Juga ikut prihatin kalau motor rusak berat. Macam sinetronlah.
Jangan pelit perhatian dan malas-malasan. Contoh, melumasi rantai dengan oli bersih. Sekalian memeriksa setelan rantainya. Lantas cek dan tambah tekanan angin ban.
Lakukan ini tanpa diminta dan ongkos tambahan. Ya kalau yang punya motor ngasih tip buat beli pulsa sih, Alhamdullilah.Di bengkel resmi, yang beginian pasti dikerjakan tanpa diminta. Kadang malah menolak uang tip, karena itu sudah kewajiban dan standar kerja bengkel.
Tapi hati kecil ini jadi pemikat. Kalau dia ingin servis ulang, sampeyan yang diingat. Dia pun jadi pelanggan. Duit pun masuk terus. Semoga pelanggan bergumam, "Tuh bengkel rajin. Baik pula memeriksa motor gue. Gratis."Hal ini, bikin mereka simpati. Dan itu promosi gratis dan paling mujarab. Ya kan! Ya kan! Ya kan! Ya iya dong ! masak iya lah ...
Sabtu, 27 April 2013
Bengkel Motor : Konsumen Adalah Raja, Eh..., Teman !
Langganan:
Posting Komentar (Atom)











Tidak ada komentar:
Posting Komentar